Masterclass dan Klinik RPS Berbasis OBE, STAI Ali Perkuat Kapasitas Dosen dalam Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Surabaya — STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya menyelenggarakan kegiatan MASTERCLASS & KLINIK RPS BERBASIS OBE dengan tema “Bedah Draft, Review Interaktif, dan Finalisasi RPS Mata Kuliah”. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ulil Hartono, S.E., M.Si., Koordinator Program Studi S2 Manajemen Inovasi Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA), sebagai narasumber. Beliau merupakan akademisi UNESA dengan kepakaran di bidang manajemen dan aktif dalam pengembangan kurikulum serta pembelajaran berbasis capaian.
Kehadiran Dr. Ulil Hartono memberikan perspektif akademik dan praktis dalam penguatan pemahaman dosen mengenai implementasi Outcome-Based Education (OBE), khususnya dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Pengalaman beliau dalam pengembangan kurikulum dan RPS di lingkungan Sekolah Pascasarjana UNESA turut memperkaya pembahasan dalam kegiatan ini. Dalam dokumen RPS S2 Manajemen Inovasi UNESA, misalnya, struktur RPS telah mengintegrasikan CPL, CPMK, matriks CPL-CPMK, serta Sub-CPMK sebagai bagian dari desain pembelajaran berbasis capaian.

Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang C03 STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya ini diikuti oleh para dosen sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dan peningkatan kualitas perangkat pembelajaran. Konsep kegiatan dirancang tidak hanya dalam bentuk pemaparan materi, tetapi juga melalui sesi bedah draft ,review interaktif, diskusi, dan finalisasi RPS sehingga peserta dapat langsung menerapkan prinsip OBE pada mata kuliah yang diampu.
Memahami RPS dalam Perspektif Outcome-Based Education
Pada sesi awal, Dr. Ulil Hartono mengajak peserta untuk melihat kembali hakikat RPS dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. RPS tidak semata-mata diposisikan sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai instrumen akademik yang menggambarkan bagaimana suatu mata kuliah dirancang untuk menghasilkan capaian pembelajaran tertentu.
Dalam perspektif OBE, perencanaan pembelajaran harus dimulai dari outcome atau capaian yang ingin dicapai mahasiswa. Dari capaian tersebut kemudian dirancang proses pembelajaran, aktivitas mahasiswa, materi, metode, hingga asesmen yang mampu memberikan bukti ketercapaian hasil belajar.
Pendekatan tersebut menuntut adanya keterkaitan yang kuat antarkomponen RPS. Setiap komponen tidak seharusnya disusun secara terpisah, tetapi harus membentuk satu kesatuan pembelajaran yang logis dan terarah.
Memperdalam CPL, CPMK, dan Sub-CPMK
Salah satu pembahasan utama dalam kegiatan adalah penguatan pemahaman mengenai Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan Sub-CPMK.
Peserta diajak memahami bahwa CPL merupakan capaian yang harus dimiliki lulusan setelah menyelesaikan pendidikan pada suatu program studi. CPL kemudian dibebankan kepada mata kuliah tertentu dan diturunkan menjadi CPMK yang menggambarkan kemampuan yang diharapkan dicapai mahasiswa setelah menyelesaikan suatu mata kuliah.
Selanjutnya, CPMK dijabarkan ke dalam Sub-CPMK yang lebih spesifik dan operasional. Sub-CPMK menggambarkan kemampuan yang perlu dicapai mahasiswa secara bertahap dalam setiap tahapan pembelajaran. Dengan demikian, terdapat hubungan yang jelas antara capaian lulusan pada tingkat program studi dengan capaian pembelajaran pada tingkat mata kuliah hingga tahapan pembelajaran.
Dalam sesi ini, peserta juga diarahkan untuk menelaah penggunaan kata kerja operasional dalam merumuskan capaian pembelajaran. Rumusan capaian harus dapat diamati dan diukur sehingga memungkinkan dosen menentukan metode pembelajaran dan instrumen asesmen yang sesuai.
Bedah Draft RPS Secara Langsung
Proses review dilakukan secara interaktif. Peserta bersama narasumber mengidentifikasi berbagai bagian yang perlu diperbaiki, mulai dari kesesuaian CPL yang dibebankan kepada mata kuliah, ketepatan perumusan CPMK dan Sub-CPMK, keterkaitan materi pembelajaran, metode pembelajaran, aktivitas mahasiswa, hingga bentuk penilaian.
Melalui proses ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung apakah setiap komponen RPS telah memiliki keterkaitan yang jelas atau masih terdapat bagian yang perlu diselaraskan.
Menekankan Alignment dalam Pembelajaran
Hal penting lainnya yang menjadi perhatian dalam kegiatan adalah konsep alignment atau keselarasan pembelajaran. Dalam pembelajaran berbasis OBE, capaian yang dirumuskan harus memiliki keterkaitan dengan proses pembelajaran dan asesmen.
Apabila suatu CPMK menuntut mahasiswa mampu menganalisis, misalnya, maka aktivitas pembelajaran perlu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melakukan analisis dan bentuk asesmennya juga harus mampu mengukur kemampuan tersebut. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi pada bukti ketercapaian kemampuan mahasiswa.
Konsep tersebut menjadi salah satu aspek penting yang dibedah dalam draft RPS peserta. Dosen diarahkan untuk tidak hanya mempertanyakan “materi apa yang akan disampaikan?”, tetapi juga “kemampuan apa yang harus dimiliki mahasiswa setelah pembelajaran?” dan “bagaimana ketercapaian kemampuan tersebut dapat dibuktikan?”
Membangun Kesamaan Persepsi Dosen
Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk membangun kesamaan persepsi di antara para dose mengenai implementasi kurikulum berbasis OBE. Kesamaan pemahaman diperlukan agar penerapan OBE dapat berlangsung secara konsisten pada berbagai mata kuliah dan program studi.
Melalui diskusi dan review bersama, peserta dapat saling bertukar pengalaman mengenai berbagai persoalan yang muncul dalam penyusunan RPS. Hal tersebut menjadikan kegiatan tidak hanya sebagai forum pelatihan, tetapi juga sebagai ruang pengembangan kapasitas akademik dan kolaborasi antarpendidik.

Menuju Finalisasi RPS Mata Kuliah
Tahap akhir kegiatan diarahkan pada finalisasi RPS mata kuliah. Peserta melakukan penyempurnaan terhadap draft yang telah dibedah dengan memperhatikan berbagai masukan yang diperoleh selama proses review.
Finalisasi dilakukan dengan meninjau kembali keterkaitan antara CPL, CPMK, dan Sub-CPMK serta memastikan kesesuaian antara capaian pembelajaran dengan materi, metode pembelajaran, aktivitas mahasiswa, dan sistem asesmen.
Dengan proses tersebut, RPS diharapkan mampu menjadi pedoman pembelajaran yang benar-benar berorientasi pada capaian mahasiswa dan mendukung implementasi kurikulum secara lebih efektif.
Evaluasi dan Tindak Lanjut
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, evaluasi dilaksanakan setelah bimtek untuk mengukur pemahaman peserta, kualitas hasil RPS, serta tindak lanjut finalisasi RPS berbasis OBE. Evaluasi ini juga menjadi bahan untuk mengetahui efektivitas kegiatan dan kebutuhan pendampingan berikutnya.
Hasil kegiatan diharapkan tidak berhenti pada tersusunnya draft RPS, tetapi dilanjutkan dengan proses review dan penyempurnaan secara berkelanjutan. Dengan demikian, implementasi OBE dapat terus diperkuat melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan pembelajaran.
Komitmen Penguatan Mutu Akademik
Pelaksanaan MASTERCLASS & KLINIK RPS BERBASIS OBE menjadi salah satu bentuk komitmen STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan memperkuat kapasitas akademik dosen.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para dosen semakin memahami bahwa implementasi OBE bukan sekadar perubahan format RPS, melainkan perubahan orientasi pembelajaran dari yang semula berfokus pada materi yang disampaikan menjadi pembelajaran yang berorientasi pada kemampuan dan capaian yang diperoleh mahasiswa.

Penguatan keterkaitan antara CPL, CPMK, Sub-CPMK, aktivitas pembelajaran, dan asesmen diharapkan dapat menghasilkan perencanaan pembelajaran yang lebih terarah, terukur, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa serta tuntutan perkembangan pendidikan tinggi.
Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari proses berkelanjutan dalam membangun budaya mutu akademik di lingkungan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya serta mendukung terwujudnya pembelajaran yang berorientasi pada capaian dan peningkatan kompetensi mahasiswa.






























