STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya Gelar Seminar Nasional Manajemen Pendidikan Islam, Bahas Integrasi Ilmu, Adab, dan Kesehatan Mental
Batu, Malang – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ali bin Abi Thalib Surabaya menyelenggarakan Seminar Nasional Manajemen Pendidikan Islam dengan mengangkat tema “Dari Pengasuhan Menuju Kepemimpinan: Integrasi Ilmu, Adab, dan Kesehatan Mental.” Kegiatan ini berlangsung di Hall Dandreium, Agrowisata Kusuma Hotel, Batu, Malang, dan diikuti sekitar 400 peserta dari berbagai daerah.
Seminar nasional ini menjadi salah satu upaya STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya dalam menghadirkan ruang akademik untuk membahas tantangan pengelolaan dan pengembangan lembaga pendidikan Islam, khususnya dalam membangun sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memperhatikan aspek adab, pembinaan karakter, kesehatan mental, serta kesiapan kepemimpinan.
Dari sekitar 400 peserta yang hadir, 130 peserta di antaranya merupakan utusan dari 71 lembaga yang mendapatkan undangan seminar. Kehadiran para peserta dari berbagai lembaga tersebut menunjukkan tingginya perhatian terhadap isu manajemen pendidikan Islam, khususnya terkait pola pengasuhan, pembinaan, dan kepemimpinan dalam menghadapi perubahan zaman.

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang disampaikan oleh Senat STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya, Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membangun pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus memiliki adab dan karakter yang kuat.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan dua sesi utama yang menghadirkan pembahasan dari perspektif pengasuhan, pembinaan, hingga kepemimpinan lembaga pendidikan Islam.
Pesantren sebagai Ekosistem dan Laboratorium Pendidikan
Pada sesi pertama, Ustadz Abu Qotadah menyampaikan materi bertajuk “Pesantren sebagai Ekosistem dan Laboratorium Pendidikan dan Pembinaan Islami Masa Depan.”
Pembahasan dalam sesi ini mengangkat pesantren bukan sekadar sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi sebagai sebuah ekosistem pendidikan yang memungkinkan proses pembinaan berlangsung secara lebih menyeluruh. Pendidikan di pesantren mencakup proses penanaman ilmu, pembentukan adab, pembiasaan, pendampingan, hingga pembentukan karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan Islam, keberhasilan pembinaan tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan di ruang kelas. Lingkungan pendidikan, keteladanan para pendidik, pola interaksi, serta budaya yang dibangun dalam lembaga menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik.
Sesi pertama kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab, memberikan kesempatan kepada para peserta untuk berdiskusi secara langsung mengenai berbagai persoalan pengasuhan dan pembinaan di lembaga pendidikan Islam.

Menghadapi Tantangan Pendidikan Islam dengan Kepemimpinan Visioner
Sesi kedua menghadirkan Dr. Haris Hermawan, B.A., M.Ed., selaku Wakil Kepala Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya. Ia menyampaikan materi dengan tema “Tantangan Pendidikan Islam di Era Modern dan Strategi untuk Mengatasinya melalui Kepemimpinan Visioner.”
Dr. Haris mengajak peserta melihat berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan Islam sebagai tantangan sekaligus peluang. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, dinamika generasi, serta meningkatnya kompleksitas persoalan peserta didik menuntut lembaga pendidikan memiliki kemampuan adaptasi dan kepemimpinan yang kuat.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, kepemimpinan visioner menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu menjalankan sistem yang telah ada, tetapi juga harus mampu membaca perubahan, menentukan arah lembaga, membangun budaya organisasi, serta menggerakkan seluruh sumber daya untuk mencapai tujuan pendidikan.
Pembahasan juga menempatkan ilmu, adab, dan kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam pengembangan pendidikan Islam. Integrasi ketiganya menjadi penting agar proses pendidikan mampu menghasilkan individu yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga memiliki karakter, kematangan dalam menghadapi persoalan, serta kemampuan menjalani kehidupan secara sehat dan bertanggung jawab.
Seperti halnya sesi pertama, pemaparan materi pada sesi kedua juga diikuti dengan tanya jawab dan diskusi bersama peserta. Beragam pertanyaan yang disampaikan peserta memperlihatkan antusiasme terhadap isu kepemimpinan dan pengelolaan lembaga pendidikan Islam di tengah perubahan zaman.

Memperkuat Sinergi Lembaga Pendidikan Islam
Seminar Nasional Manajemen Pendidikan Islam ini tidak hanya menjadi forum penyampaian gagasan akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai unsur dan lembaga yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan Islam.
Kehadiran 130 utusan dari 71 lembaga menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring dan sinergi antarlembaga. Pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan pendidikan, pengasuhan, pembinaan sumber daya manusia, serta peningkatan kualitas tata kelola lembaga pendidikan Islam.
Melalui seminar ini, STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam. Pendidikan yang kuat tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga pengasuhan yang tepat, lingkungan yang mendukung, pendidik yang mampu menjadi teladan, serta pemimpin yang memiliki visi dan kemampuan membawa lembaga menghadapi tantangan masa depan.
Seminar Nasional Manajemen Pendidikan Islam ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa perjalanan pendidikan tidak berhenti pada pengasuhan, tetapi perlu diarahkan menuju terbentuknya generasi yang mampu tumbuh menjadi pribadi berilmu, beradab, sehat secara mental, dan siap mengambil peran kepemimpinan di tengah masyarakat.


