Perjalanan panjang selama hampir 20 jam ditempuh rombongan dari Pondok Pesantren Al Madina Al Islami, Prabumulih, Sumatera Selatan, demi sebuah ikhtiar menjalin silaturahmi dan kerja sama. Letih perjalanan darat itu pun terbayar dengan hangatnya sambutan civitas akademika STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya.
Rombongan tamu yang hadir terdiri dari Ketua Yayasan, Bendahara, Mudir Ponpes, Tim Media, serta dua orang staf pengajar. Sang Mudir, Ustadz Hidayatullah, S.Sy., memimpin langsung rombongan dalam lawatan penting ini.
Kunjungan yang penuh makna ini tidak sekadar silaturahmi, namun juga menjadi momen bersejarah dengan dilaksanakannya penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua lembaga. MoU ini diharapkan membuka jalan sinergi baru dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pengembangan sumber daya manusia.

Rombongan disambut langsung oleh jajaran pimpinan kampus: Ustadz Askar Wardhana Windro Saputro, STP., Lc., M.Pd. Waka I Ustadz Hermawan, Lc., M.Pd. serta Waka III Ustadz Abdul Basid, Lc., M.Pd. Kehangatan penyambutan itu semakin lengkap ketika rombongan diajak berkeliling kampus melalui agenda tour campus yang dibersamai langsung oleh staf humas kerjasama. Mereka meninjau kantor rektorat, ruang dosen, dan ruang guru, sekaligus berkesempatan bertemu langsung dengan para dosen dan bahkan dosen native speaker yang turut memperkuat kualitas akademik di STAI Ali.

Suasana kunjungan ini tidak hanya formal, tetapi juga akrab. Setiap perjumpaan di sudut-sudut kampus menghadirkan cerita, seolah perjalanan panjang yang mereka tempuh adalah bukti nyata bahwa ukhuwah Islamiyah tak pernah mengenal batas jarak. Dari Prabumulih hingga Surabaya, langkah-langkah itu dipersatukan oleh satu tujuan: menyemai ilmu, menguatkan dakwah, dan menumbuhkan generasi berakhlak mulia.
Kunjungan ini ditutup dengan penuh syukur dan doa agar kerja sama yang baru saja diresmikan dapat menjadi amal jariyah, membawa keberkahan, serta membuka jalan luas bagi lahirnya generasi muslim yang siap membangun peradaban.
Penulis: Adidya Bramantoro
Redaksi: Fedya Ainur
Dokumentasi: Muhammad Reza Albani


